PROLOG
Cinta...
Akankah ku temukan dan ku raih cinta..?
Berawal dari pertemuan dan kebersamaan,
Berubah menjadi persahabatan,
Hingga timbul rasa sayang...
Akhirnya,
Benih-benih Cinta timbul mengusik kedamaian hati...
Pikiranku menerawang jauh ke angkasa, saat kupandangi indahnya lukisan malam dari atap rumahku. Ya, begitulah aku yang selalu merenung sambil berbaring di atap rumah. Bulan dan Bintang serta gelap malam dengan semilir angin setia menemaniku dalam lamunan panjangku. Khayalku terbang meresapi arti hidupku yang berliku. Aku dan sahabatku serta Cintaku....
Bagian I
Mentari bersinar, berikan kehangatan di muka bumi. Burung-burung dengan merdunya bernyanyi. Pepohonan,bunga nan warna-warni bergerak ke kanan ke kiri seolah ikuti irama nyanyian.
Aku genggam erat tangan Cassandra-cewek termanis dalam hidupku-dan kami pun berlari-lari kecil sambil dihiasi senyum tipis juga ria canda. Kami telusuri hamparan padang rumput nan hijau membentang. Si rumput ternyata ikut bergoyang dengan asyiknya bersama pohon , bunga diiringi kicau burung. Seolah, mereka tahu betul apa yang sedang aku rasakan. Bahagia bersama gadis tersayang. Tapi, karena asyiknya,kami justru jatuh menyatu bersama rumput-rumput hijau. Meski...dia kini tertelungkup di atas tubuhku yang terbaring di rumput. Maka kami saling bertemu, dadaku terasa sesak,adrenalin memacu ke puncak. Rasanya kami tak pernah sedekat ini. Dekat,dekat,semakin dekat, dan...akhirnya kami bertabrakan--sama-sama mancung sih...-Kami pun tersadar dan sontak saling menjauh. Dia bangun dan berikan senyum manis campur malu dan langsung berbalik,berlari tinggalkan aku,tanpa berhenti barang sejenak untuk menoleh ke belakang. Aku yang duduk terbangun hanya bisa diam,dan biarkan dia hilang dari pandangan...
“Kring. . . kring. . . kring. . .”
Si Weker sudah sedari tadi berusaha bangunin aku dengan suaranya yang nge-Rock itu.
“Argh...!!”
Aku menggerutu seraya menyingkirkan selimut yang membalut tubuhku dan meraih jam weker “butut” itu dan ku bikin dia tutup mulut !!?
Aku tahu kebersamaan itu cuma mimpi. Dan aku pun kembali merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur lalu berpikir,”Apa arti mimpiku tadi?”
“Akankah aku,kan kehilangan dia ??”,pikirku.
“Ah, mimpi kan cuma bunganya tidur...kenapa harus aku pikirin ?Mending aku bergegas mandi, sebelum...
Belum juga aku selesai bicara,suara yang selalu ku dengar tiap pagi datang mengahntui.
“Tama !! Cepet bangun !!? Nanti terlambat ke sekolahnya...”,Mama mulai cuap-cuap dengan obrolan khasnya tiap pagi sambil nyiapin sarapan.
“Iya,Ma...”, jawabku yang masih santai duduk di atas kasur.
Aku beranjak dari tempat tidur dan masuk kamar mandi buat bersih diri.
Tak lama, setelah kurang lebih limabelas menit di kamar mandi, aku keluar dan hanya berbalut handuk dan kaos dalam. Mandi pagi memang segar. Badan bersih,pikiran jadi fresh. Aku berjalan dekati baju seragam “biru-putih” yang menggantung di almari,yang kelihatannya juga sudah nunggu dari tadi. Ya,memang sudah 2 minggu aku nggak pake seragam itu. Kan libur akhir semester gasal...makanya,aku sering bangun telat.Baru hari ini, aku bisa pake lagi. Hari Senin yang menjadi awal perjalanan pembelajaranku di semester Genap.
Belum juga sampai langkahku menggapai almari, siulan mirip kicau burung memanggil-manggil aku—kode etik aku dan temanku--. Suara itu ternyata telah menembus jendela kamarku. Aku pun berbalik dan berjalan menuju jendela kamar yang sudah terbuka lebar. Di jendela seberang jendela kamarku, kudapati sosok teman sejati yang memang tiap pagi “nongol” di jendela sekedar sapaan pagi ataupun bikin janji buat ngejalanin hari ini. Dia sudah berpakaian rapi. Kedua tangannya menyilang di bingkai jendela, menopang tubuhnya dan...
“Woi...!! Kemana aja kamu? Hari pertama masuk sekolah, bukannya buru-buru buat ke sekolah,e...malah jam segini masih pake handuk ?!? Payah loe !! “,cerocosnya yang udah kaya burung berkicau di pagi hari.
“Iya,iya..Ryan yang sok rajin !? Kamunya aja kali tuh yang kepagian,orang baru jam setengah tujuh ini. Semangat amat sih kamu !?”, sahutku yang tak mau kalah dengan cerocosnya.
“Udah deh ! Buruan sana !! Pake seragam kamu,jangan lupa minum susu, supaya sehat selalu. Ha..ha..ha..”,lagaknya yang sok nasehatin aku sambil ngakak nggak jelas gitu.
“Yeee,sirik aja lihat orang cakep”, timpalku.
“Hah???Ha..ha..ha..”
Ee..dia malah tambah keras tuh tertawanya. Iya juga sih,emang nggak nyambung jawabanku. Tapi ya biarin aja,daripada kehabisan kata.
“Woi !! Sadar dong lo !! Pagi-pagi gini udah kumat. Salah minum obat ya ?”, kataku supaya dia diam.
“Ha..ha..ha..”
“Ha..ha..ha..”
Tawa itu makin keras dan menjadi-jadi.
“Yah,udahlah! Aku siap-siap dulu!! See you,Pren !!”,kalimat terakhirku menutup debat pagi sambil melenggang menjauh dari jendela. Ya, meskipun suara itu (Tawa Ryan yang fals) masih aja bikin pusing.
Selang sepuluh detik aku tutup mulut, suara itu udah nggak kedengeran lagi.
“Udah mampus kali,dia”,tebakku dalam hati.
Itulah kami,dua sahabat yang udah berteman sejak masih sama-sama duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Rumah kami bersebelahan. Kami saling curhat,ngobrol,bercanda dan bahkan sekedar “say hello!!” lewat jendela kamar yang berseberangan.
Kami memang termasuk humoris. Tak jarang perut sakit cuma karena lawakan-lawakan kami yang kadang “jayus” juga sih.
“Hah,selesai juga nih aku dandannya. Udah OK! Nggak kalah pastinya sama Cover Boy “,gumamku di depan cermin usai pake seragam dan menata rambut.
“Iya,Cover Boy Majalah Aneka Satwa Liar!?”
Suara yang sangat aku kenal tiba-tiba maen nyambung aja. . .
“Eh,kamu Yan? Gile bener...Abis nertawain orang,sekarang mau bikin aku jantungan ??Kayak syaiton nirrajim aja lo!? Datang nggak dijemput,pulangnya masih diongkosin...”,ejekku.
“Kamunya tuh yang LEMOT abis...sampe aku harus rela nyusulin ke kamar kamu yang udah kayak kapal pecah!”,balasnya.
“Biarin,daripada kamar kamu,kayak kandang kambing”. Aku nggak mau kalah.
“E...e...e...ni anak bukannya cepet-cepet berangkat ke sekolah,malah Lomba Jajak Pendapat aja. Mau jadi politikus??”, oceh Mama yang tiba-tiba masuk kamarku.
“Eh tante. Pagi Tante...Sori tadi nyelonong masuk. Abis ini anak Tante, dandannya kelamaan...”,rayu si Ryan.
“Alah nak Ryan ini. Kaya nggak pernah masuk lewat jendela aja”,sindir Mama.
“Rasain!? Hihihihi”,kataku tertawa geli.
“Hehehehe kan saya juga anak Tante...”,jawab Ryan.
“Anak nemu di jalan,Ma!”,sahutku.
Mama hanya tersenyum tipis dan Ryan nunduk sok malu-malu kayak kucing.
“Sudah,sudah,kita akhiri OLTAPARInya.”,kata Mama lunak.
“Oltapari? Apaan sih Tante?”, tanya Ryan yang GAPTAG (Gagap Kata-Kata Gaul)
“Olahraga Tawa di Pagi Hari.”, timpalku dengan pede.
“O......”, Ryan mencerna kataku.
“Ya,Bundar!?”,Mama tiba-tiba ngomong asal sembari jalan menuju pintu kamar.
“Bundar?? Apanya yang bundar?”,tanyaku dan Ryan bersamaan seolah punya pikiran yang sama.
“Yang bundar,ya O-nya Ryan”, Mama berbalik dan menjelaskan singkat.
“O......”,kata kami serentak mengerti apa yang Mama maksud.
“Bundar!?”,kataku.
“Wkwkwkwkwkkwkwkwk..”,Kami tertawa bersama.
Aku pun meraih tas sekolah yang hanya diam di atas meja belajar. Aku dan Ryan berjalan beriringan keluar kamar,menuruni tangga,mengikuti Mama menuju meja makan buat sarapan. Ternyata Papa udah pasang muka geram karena nunggu kelamaan. Alah, Papa Cuma akting aja kok.
“Pagi Om...”,sapa Ryan.
“Udah lama ya,Pa?”,tegurku.
“Nggak baru juga berapa jam”,jawab Papa datar sambil melihat jam tangannya.
“Papa pasti sabar menanti untuk anak laki-lakinya yang satu ini. Ya kan,Pa..?”,tanya Mama mencairkan suasana.
Papa cuma mengangguk dengan senyum tertahan menjaga aktingnya.
“Saski mana, Ma?”, aku mengalihkan pembicaraan.
“Dia kan “Diligent Girl”, pasti udah berangkat sekolah.”,jawab Ryan menyindir.
“Iya,benar....”,tambah Mama.
“Nggak kepagian apa?”,tanyaku.
“Dia kan dapat tugas jadi dirijen paduan suara buat upacara.”,tambah Mama lagi.
“Suaranya bagus dong,Tante?”,Ryan antusias mendalami omongan Mama.
“O,tentu....dia kan pernah dapet juara 1 Lomba Nyanyi se-Kompleks Perumahan.”,terang Mama.
“Wah, hebat dia ya,Tante!”,kata Ryan sok mendukung cerita Mama.
“Tuh kan,mulai deh “ngejilat”!?, gerutuku.
“Emang benerkan adek kamu pinter nyanyi,nggak kayak ....”,sindir Ryan.
“Ryan !”, sentakku.
“Hayo...STOP!! Saatnya makan pagi. Tuh, nasi goreng Tante udah mulai dingin. Kalian sih,debaaaaat terus. Nggak abis-abis.”, Mama menghentikan perang mulut kami.
Papa yang dari tadi kita “kacangin” sekarang tambah dingin. Wajahnya pun sampai tak kelihatan tertutup koran harian pagi ini. Kelihatannya asyik sekali ngebaca beritanya.
“Beritanya bagus ya,Pa? Ada berita apa aja? Jakarta banjir?”,tanyaku melelehkan Papa yang diam kayak es.
“Hm...”,jawab Papa.
“Serius amat. Sampe nggak dijawab. Sini,coba lihat!”,kataku sambil narik koran di hadapan Papa.
Baru juga koran sampai di tangan. Aku,Ryan dan Mama langsung takjub. Ternyata, Papa diam karena asyik nikmatin nasgor buatan Mama,menu santap pagi hari ini,di balik koran yang hanya kamuflase Papa untuk menutupi ke-enjoyannya. Aduh,Papa.....Papa......Sontak kamipun tertawa bersama.
Itulah,keakraban di pagi hari yang senantiasa menghiasi awal langkahku menapaki hari-hariku. Karena tetangga yang dekaaaat banget,jadi bukan hanya aku dan Ryan yang sahabatan. Malah, keluarga kami udah kayak saudaraan. Saking deketnya,sampe-sampe kalo sarapan “Noempunk !!” [baca : numpang]. Kadang,aku numpang sarapan di rumah Ryan, dan sebaliknya Ryan juga sering kok numpang sarapan di rumah aku. Ya,kayak pagi ini contohnya.
Usai santap pagi,aku dan Ryan melangkah seirama keluar pekarangan rumahku.Eitzz,tunggu dulu...di rumah seberang rumahku ada penampakan!! Tapi bukan hantu...do’i bidadari yang turun dari kahyangan dengan balutan busana biru-putih rancangan DEPDIKNAS !? Dia, Cassandra...
Kau bidadari
jatuh dari surga di hadapanku,
EA...
Kau bidadari
jatuh dari surga tepat di hatiku,
EA...
So baby please be mine!
Please be mine, Oh..mine
Karna hanya aku
Sang pangeran impianmu...
(Coboy Junior-Ea)
Sosok cewek impianku menampakkan dirinya dengan gaya Highclass banget...Senyum manisnya menambah semarak pagi ini.
Wahhh Aku jadi tambah semangat menjalani hari ini. Menyadari akan hal itu, langkah kakikupun terhenti. Jantung berdetak kian cepat seolah tak ada sela untuk bernapas. Aku hanya melongo dan menatap penuh penghayatan sosok gadis manis itu. Dia...semakin dekat...rasanya. Andai itu nyata!!
“Pagi,Tama...”,sapa Cassandra dengan tambahan senyum manisnya.
Tapi aku masih saja menyelami lamunanku dan tanpa sadar aku menjawab salam pagi darinya yang kukira Cuma “Fiktif Belaka”.
“Pagi manis...”, jawabku tak sadar dan pandanganku yang masih kosong.
“Tam,Hallo...Hei,kenapa kamu?”,sambut Sandra heran serta berusaha sadarkanku dengan lambaian tangannya tepat di depan mukaku.
“Hah!”, Aku tersadar, muka pun memerah saat sadar Sandra di depan mataku.
“Aduh! Pagi-pagi gini pikiran kamu udah jalan-jalan ke Eropa deh kayaknya. Ampuuuunn”, Sandra meledekku.
“Hehehehe. Sori,San! Aku terhanyut.”, timpalku dengan sedikit cengengesan. Meski dalam hati aku senang dia ada di dekatku dan bukan sekedar mimpi. Berbunga rasa hatiku.
“Terhanyut di sungai kalee...Hihihihi”, sambung Sandra jenaka membuat kami tertawa berdua.
“Woi! Sungguh teganya dirimu, teganya,teganya,teganyaaa ngacangin si cakep ini!”, potong Ryan tiba-tiba.
Kami yang lagi asyik tertawa berdua menjadi tertegun memandangi Ryan.
“Kasihan banget sih kamu,Yan.”, celetukku dalam hati.
“Aduh,kaciaann...Sini,ayo Sandra temenin. Tapi jangan nangis lagi ya...”, kata Sandra dengan sok lemah lembut sembari mendekati Ryan yang bersandar di bawah pohon—Wah,kalo dipanjat bisa GAWAT!! Nanti disangka KONGKING lagi...—“
Ryan kaget,matanya pun dibuka lebar-lebar sambil bibir diangkat separo mengisyaratkan heran yang luar biasa. Aku hanya tersenyum tipis dan mengikuti Cassandra mendekatinya.
“Maksud lo??”, tanya Ryan yang masih heran.
Cassandra menghampiri, lalu menepuk pundaknya sambil senyum-senyum manis pastinya.
“Udah, ayo berangkat ! Udah kesiangan nih kita.”, ajak Sandra mengalihkan pembicaraan dan tentu dibarengi senyum.
Ryan masih heran aja. Mukanya bingung banget—Nggak tau sih,beneran atau dibuat-buat—Dia cuma diam tanpa ekspresi yang gimana-gimana karena sibuk sama si HERAN.
“Dagh...”,sapaku sambil melewati Ryan yang masih terperanjat itu, mengikuti langkah Cassandra yang jalan duluan di depanku.
“Tama....Sandra....Gimana sih? Jangan tinggalin aku dong!”, suara Ryan mengalun mengikuti larinya mengejar kami.
Aku,Ryan,Cassandra, tiga orang sahabat yang selalu bersama menghadapi hari-hari dan menebarkan kebahagiaan,kegembiraan,dan mungkin kasih sayang di dalamnya.
Bertiga, kami bersama melaju dalam derap senada menuju “GRAHA ANUGERAH”,sekolah kami sejak dari TK,SD,SMP,sampe SMA kini. Letaknya hanya 250 meter dari kompleks perumahan kami. Sekolahnya cukup luas,cukup bagus mutunya,cukup baik siswa dan gurunya,cukup indah,cukup rapi,cukup asri,cukup bersih,ya....pokoknya semuanya cukupan,deh! –Cukup bosen juga belajar di Yayasan ini,kan TK,SD,SMP dan SMA udah sekalian dalam satu kompleks sekolahan gitu.-
“Eh,udah hampir pukul 07.30 nih!! Baiknya kita lari aja yuk! Sekalian pemanasan.Gimana?”, tantang Cassandra buat ngeburu waktu.
“Serius kamu nantangin kita lari? Nanti kamu nggak kuat lagi...”,sambutku nggak yakin.
“OK !? Siapa takut?? Tak jabanin dah...”, Ryan semangat dan sedikit sok gitu.
“Aku yakin, aku nggak akan kalah sama kalian. Gue itung ya? 1....3! Come on...”,Cassandra mengaba.
Serentak kami bertiga lari sekuat tenaga. Ryan udah ngebut duluan. Aku sedikit melambat menemani Cassandra yang udah ngos-ngosan. Aku berlari di sampingnya.
“San,kamu yakin masih kuat? Jangan dipaksain deh! Kan kasihan kamunya.”, bakat sok care-ku mulai muncul.
“Mau gimana lagi,Tam!? Kita kan harus ngejar waktu...nggak mau kan hari pertama masuk sekolah udah dihukum??”,jawab Cassandra yang terus menguatkan diri untuk berlari.
“Tapi,San. Aku nggak mau kamu kenapa-napa.”,bantahku.
“Tam....kamu ada apa sih? Sok care banget sama aku. Biasanya kan kamu nggak mau kalah sama Ryan. Kamu udah di overlap tuh..”,larinya perlahan mulai melambat.
“Aku...sebenernya Aku...Heh,kamu jangan kegeeran gitu,deh. Aku tuh Cuma kasian sama kamu. Nggak lucu deh nanti kalau ada berita miring,’ Tama anak kelas XI A yang juga seorang aktor tampan berbakat membiarkan gadis belia teman sekelasnya terkapar di pinggir jalan. Gimana Hayo??”, kataku dengan pede untuk nutupin perasaanku yang sebenarnya.
“Pede lo...”,sahutnya.
“Akhirnya sampai juga...Huh...”, sambung Cassandra dan berhenti tepat di depan pintu gerbang lalu menghela napas panjang serta tangan kanannya menyaku peluh yang mulai bercucuran. Begitupun aku. Capek juga ngoceh sambil lari. Tapi, nggak apa-apa kan demi Cassandra.
Baru sepuluh detik kurang lima detik, di pintu gerbang terlihat pak satpam bersiap menutup akses kita menuju sekolah.
“Pak....tunggu!! Jangan dikunci dulu gerbangnya!”, teriak Sandra mencegah Pak Satpam,spontan lari meraih gerbang.
Aku terus mengikutinya tanpa komentar apa-apa.
“Yap! Tepat waktu! Kalo terlambat dua detik saja,kita bakal pulang dan sia-sia pelarian kita.”.kataku saat berhasil melewati gerbang.
“Untung-untung..Ya udah! Ke kelas yuk.Kan tiga menit lagi upacara bendera dimulai.”, timpal Cassandra.
Kami pun bergegas menuju kelas. [Eh, tau nggak Ryan kemana? Emang rese tuh anak. Pas, kami nyampek di kelas,dia udah sibuk nasehatin temen-temen dengan celotehannya tentang piket kelas].—Maklum,ketua kelas.
“Teng...teng...teng...”,bel jam istirahat berbunyi.
Secara serempak,di hampir tiap-tiap kelas,anak-anak berhamburan keluar. Sepertinya udah pada lapar kali. Abis,setelah upacara bendera selesai,gurunya pada sibuk rapat sendiri...Jadi,jam kosong terus. Sebagai siswa yang baik,tentu nggak mau ketinggalan manfaatin jam kosong. Meskipun cuma di dalam kelas, tapi rasanya udah kayak di Pasar!? Ada yang bikin grup genjrengan gitar-meski lumayan fals dan berantakan-ada yang asyik main poker,terus cewek-cewek yang seru-serunya ngrumpiin cerita liburan,sampai ada juga yang main kejar-kejaran plus petak umpet. So,kelas jadi gaduh banget. Dan mungkin sekarang mereka pada kehilangan energi buat itu. Makanya, langsung aja buru-buru ke kantin.
Aku,Ryan dan Cassandra jalan belakangan. Yah,daripada desak-desakan sakit semua,mending belakangan asal nyaman. Kami berjalan bertiga udah kayak ‘charlies angel’. Namanya juga temen deket. Ya kemana-kemana deketan dan nggak bisa jauhan dong.
“Eh,San..gimana cerita liburan kamu? Ada yang seru nggak?”, aku memulai pembicaraan.
“Ya,lumayan...”, jawabnya.
“Lumayan, emang kamu pas liburan makan soto di warung soto Pak Tohar ? Iya, emang enak banget..Aku aja sampai nambah dua porsi”, si Ryan mulai kumat.
“Aduh,Ryan...kamu tuh garing juga ya”, ledek Cassandra.
“Tau nih,dari pagi udah konslet aja.”, sambungku.
“Maap-maap,just kidding,Bro...!!”, sahutnya.
“OK,lanjut...”, tambah Ryan.
“Waktu liburan di rumah nenek di Lembang, aku main hujan-hujanan. Tapi, bukanberarti aku masa kecil kurang bahagia. Aku,Cuma pengen tau aja gimana dan apa yang bisa aku dapat dari hujan. Ya,nggak beda jauh kayak Bunga Citra Lestari di film Cinta Pertama (Sunny). Hehehe..”, ceritanya hingga menutup perjalanan ke kantin.
“Ah,kamu ini ada-ada saja,San!”, komentarku sambil berjalan beriringan sama mereka menuju meja kosong di sudut kantin.
“Eh,aku pesen makanan dulu ya..”,Ryan lari ke arah meja menu.
“Yang biasa,Yan...”,kataku.
“Siip.”, tanpa noleh ke belakang dan terus bergegas.
“Terus gimana ceritanya...”,tanyaku ingin tahu berlanjutan cerita Cassandra.
“Nah,waktu itu hujannya gerimis doang dan angin juga bertiup sepoi-sepoi,terus aku lari ke tengah halaman dan berdiri disana tanpa alas kaki. Tanganku merentang,daguku sedikit diangkat,dan mataku terpejam. Aku berusaha merasakan dalam-dalam, apa yang bisa aku dapatkan dari hujan. Angin semilir dengan cukup membawa hawa dingin menerpa rambut panjangku ini,yang kebetulan aku gerai. Aku mulai tarik napas dalam-dalam untuk berusaha memaknai hujan lebih dalam.”, ceritanya serius sambil berpose seperti apa yang dia ceritakan.
“Eh,San. Jangan terbawa emosi gitu dong...Nanti diliatin temen-temen.”, Aku berusaha menyadarkannya.
“Hah..eh,iya...hehehehe sori-sori.”, Cassandra cengengesan dan duduk lagi di kursinya.
“Huh,untung nggak ada yang merhatiin kamu.”,sambutku.
“Tapi,masih ada kelanjutannya...Pas aku lagi asyik-asyiknya nih,tiba-tiba suara Pak Bejo,tukang kebun rumah nenekku mengejutkan aku. Tau nggak dia bilang apa? ‘Lho,neng kok udah gedhe masih ujan-ujanan. Nanti bisa masuk angin lho...’”,ceritanya dengan sedikit gaya malu dan lucu.
“Hahahahaha”, tawaku spontan.
“Pak Bejo ternyata udah ada di depanku dan tentunya sedari tadi dia mengetahui gerak-gerikku. Aku langsung buka mata, bibir melongo dan tanganku yang merentang langsung aku turunkan serta wajahku udah merah padam nggak tau mau apa. Aku cuma bisa cengengesan doang. Dan Pak Bejo juga cuma senyam-senyum ke aku...hihihi.Kasihan banget ya aku...Mungkin kalo ada kotak sampah di dekatku,udah aku masukin kepala aku ke dalamnya saat itu juga. Gilaaaaa malu bangeeetttt”, ceritanya semakin menggebu.
“Hahahahahaha kenapa kamu nggak langsung lari masuk rumah aja sih?”, dengan masih tertawa aku bertanya.
“Ya jelas dong !? Abis kepergok,aku cengengesan dengan muka malu, dan langsung berbalik arah lari masuk ke rumah. Hahahahaha.Aduh malu-maluin juga ya tingkahku.”, jelasnya diiringi tawa .
“Makanan datang....Seru amat,ngomongin apa? Pasti ngomongin aku yaaa??”, Ryan datang dengan tiga mangkuk bakso dan tiga gelas es jeruk dalam baki yang dibawanya.
“Ah, udah. Nggak usah dibahas lagi,mending kita santap dulu nih apa yang ada di hadapan kita.”, alih Cassandra.
Kami pun bersama menikmati bakso ibu kantin yang lumayan enak...
“Aku pulaaaangg”, kataku sambil masuk rumah dan langsung menuju ruang tengah.
“Selamat dataaang,baru pulang,kak? Gimana hari pertama masuk sekolah? Pasti seru dong ketemu temen-temen. Kan udah dua minggu nggak ketemu.”, jawab Saski yang lagi asyik duduk sambil baca majalah kesukaannya di atas sofa merah marun ruang tengah.
“Tumben tanya-tanya. Biasanya kan, kamu selalu jadi nenek sihir yang jutek banget.”, timpalku.
“Enak aja nenek sihir, kakak tuh yang Vampire. Ditanya baik-baik,e malah sewot.”, sambutnya tak mau kalah.
“Kalo aku Vampire, berarti sekarang aku bakal gigit kamu biar aku nggak liat nenek-nenek keriput yang jutek abis kayak kamu!! Ha....”,balasku sambil akting mau gigit.
“Argh..Mama...Kak Tama,Ma...”,Saski teriak sekencang-kencangnya.
“Nenek lampir kok tukang ngadu.”, spontan aku tutup mulut dia.
“Ada apa sih?? Nggak pagi,nggak siang,nggak malem kalo kalian ketemu kok selalu kayak Tom and Jerry yang nggak pernah akur.”, celoteh Mama.
“Ini Saski,Ma. Katanya giginya sakit,makanya aku coba lihat mulut dan pipinya.”, Aku beralasan.
“Bohong kok,Ma...Orang Kak Tama tadi mau gigit aku...”, sangkal Saski.
“Aduh. Sudah...sudah...bikin pusing Mama aja kalian ini. Tama,cepet ganti baju sana dan makan siang!!”, perintah Mama.
“Eh,Ma. Kok mobil Papa udah nongkrong di depan. Emang Papa jam segini udah pulang?”, tanyaku.
“Itu dia masalahnya,Kak...”,jawab Saski sekenanya.
“Maksudnya?”, aku bertanya-tanya.
“Papa dapat surat tugas dan dipindahtugaskan ke Surabaya. Tentu kita sekeluarga harus ikut pindah.”,jelas Papa tiba-tiba yang baru kelar dari meja makan dan kini berdiri di samping Mama.
Gaptag bukannya gaptek ya? :O #gagapteknologi
ReplyDeleteHehe, kan aku masih alay. Wkwkwk XD
ReplyDelete