Sunday, June 16, 2013

Me - Love - Friendship Part 2

 To be continued... Kali ini saya akan melanjutkan cerita saya yang kemarin..
“Mama Papa duduk dulu deh! Jelasin ke Aku yang sejelas-jelasnya.”, Aku memohon dengan hati yang mulai tak menentu.
    “Kurang jelas apanya. KITA PINDAH!! Kita akan meninggalkan kehidupan hingar-bingar Jakarta ini dan akan memulai kembali kehidupan baru di Surabaya.”, ungkap Papa sembari duduk bersama Mama di sofa merah marun.
    “Tapi,Pa...”, bantahku.
    “Tama, ini semua demi kebaikan kita semua. Toh,kita juga dapat fasilitas yang memadai disana. Ayolah, kamu harus dukung keputusan Papa dan Mama untuk pindah ke Surabaya.”, rayu Mama.
    “Papa egois!!! Demi karir Papa, Papa korbankan kehidupan keluarga kita di Jakarta. Bahkan, mungkin Papa nggak akan ngerasain rasa kehilangan Tama atas apa yang Tama punya disini. Dan memulai dari nol itu susah,Pa. Apalagi di tempat yang baru, yang selama ini tidak pernah aku bayangkan. Mungkin, aku bakal sulit untuk beradaptasi disana,Pa!”, Aku menyerocos begitu saja tanpa sadar aku telah beranjak dari tempat dudukku.
    “Kamu pasti bisa,Tama. Memang berat rasanya. Tapi, kamu jangan hanya berpikir untuk hari ini. Pikirlah besok,lusa dan masa depanmu.”, Papa masih saja berusaha meyakinkan Aku.
    “Aku bisa meraih masa depanku disini. Nggak perlu ikut Papa dan Mama pindah ke Surabaya.”, bantahku lagi.
   
 “Tama, mengertilah. Kamu juga jangan egois gitu. Papa kepala keluarga disini. Pasti Papa tau,ini adalah jalan terbaik. Kamu harus ikut Mama dan Papa pindah, supaya kamu tetap dalam pengawasan kami. Kami sayang sama kamu. Dan tentu kami juga tidak mau kamu terhanyut dalam derasnya hitam putih Jakarta. Kami tau, kamu tidak bisa ninggalin temen-temen kamu,sekolah kamu,dan hal lain yang senantiasa adala dalam kehidupan kamu disini. Tapi, kembali lagi kepada kamu. Demi kebaikan kamu.”, Omong Mama panjang lebar dengan pasang muka melankolisnya.
    “Argh!!Udahlah,Aku capek!”, kataku sambil bergegas ke kamar.
    “Brakk!!!!”, pintu kamarku kubanting keras.
    Kini, aku hanya bisa melemparkan tubuhku ke tas tempat tidur dan meresapi kehilangan apa yang aku punya sekarang. Aku bakal ninggalin sobat aku,kamar aku,rumah aku,sekolah aku bahkan cewek manis yang aku suka sejak dulu. Apa yang ada di kehidupan aku sekarang akan musnah.....setelah hampir duabelas tahun menjalani kehidupan disini.
    Aku duduk termangu di atas kasur. Berpikir, apa yang akan terjadi nantinya. Mataku tanpa sengaja memandang sekilas foto di atas meja belajarku yang terpajang dalam bingkai pigora disana. Foto Aku,Ryan dan Cassandra. Aku beranjak dari tempat tidur dan meraihnya. Kubawa kembali duduk di atas kasur. Aku memandangnya dalam-dalam. Kurasakan kebersamaan kami dalam untaian kisah manis di sepanjang kehidupan disini. Tak pernah aku berpikir kebersamaan itu akan hilang dalam sekejap mata.
    Sudah tak ada hal lain yang bisa aku lakukan, selain hanya meratapi kenyataan hidup yang harus aku hadapi. Hingga malam berselang, aku masih saja mengurung diri di kamar, tanpa terpikir perut lapar. Dan sesekali Mama mengetuk pintu kamar, mungkin khawatir akan sikapku. Sampai rasa jenuh mulai menghampiri.
    Aku memutuskan keluar kamar dan berjalan lurus ke arah balkon. Rasanya aku harus mengakhiri semua ini. Aku lelah, dan aku tak mampu hadapi ini. Ingin aku lepas dari semua belenggu yang buatku kacau. Haruskah aku melompat, terjun ke bawah dan aku akan terbebas dari ini semua. Betapa bodohnya aku jika harus lakukan hal itu. Tubuhku melemas dan aku duduk berpegang pada jeruji pagar balkon.
    “Kak Tama,Kak Tama jangan sedih...kalo ada hal yang mengganjal di hati,katakanlah! Jangan dipendam sendiri. Berbagilah denganku. Aku tahu, kakak pasti masih mikir soal kepindahan kita. Memang berat rasanya. Tapi,mau gimana lagi?? Kita harus rela jalanin ini...”, suara Saski yang lemah lembut mengalun begitu saja saat tiba-tiba dia muncul dan duduk di sampingku. Aku sama sekali nggak nyangka.
   
 “Tapi, kamu nggak tau Sas apa yang kakak rasain sekarang.”, sahutku masih dengan ekspresi sedih tak berujung.
    “Siapa bilang? Aku tahu apa yang kakak rasain...Kakak berat ninggalin temen-temen kakak,kan? Nggak hanya kakak kok. Aku juga. Bahkan aku harus rela meninggalkan karir aku yang udah aku bangun dari dulu. Aku harus mencopot gelar siswa teladan yang aku telah raih kurang dari sebulan lalu. Padahal, masih banyak program kerja yang harus aku laksanain. Hah, tapi mau apa lagi??”, ungkapnya dengan diakhiri nada sendu.
    “Kamu? Program kerja? Alah...masih kelas 6 SD aja udah belagu. Terus, kamu setuju nggak kita pindah?”, tanyaku kembali.
    “Beraaaattt deh rasanya. Tapi, aku yakin kita juga pasti akan punya kehidupan yang bahagia disana. Karena aku yakin. Apa yang terjadi dalam hidup ini udah diatur sama Tuhan dengan sebaik mungkin.”, jawabnya.
    “Dan Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik buat kita. Nggak semua yang kita anggap baik, belum tentu baik bagi kita. Dan sebaliknya, apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk bagi kita. Percayalah, Tuhan tahu apa yang diperbuat-Nya untuk kita. Tuhan Maha Adil...”,sambung mama sembari ikut duduk di lantai balkon bersama kami. Mungkin mama udah mendengar semua pembicaraan kami.
    “Mama...”, Aku pandangi mata Mama dengan senyum tipis di bibirnya, dengan mataku berkaca-kaca. Aku memeluk Mama erat-erat.
    “Maafin Tama,Ma...Tama nggak maksud...”, nada getir yang keluar dari mulutku saat ku masih dalam pelukan hangat seorang ibu.
    “Sudah...Mama ngerti kok perasaan kamu...”, kata Mama dengan masih lemah lembut sambil mengelus punggungku.
    “Mama,Saski juga mau dipeluk...”,rengek Saski dan langsung memeluk begitu saja.
    “Ayo...sudah...kalian jangan berlarut-larut sedihnya. Coba Mama pengen lihat kalian senyum...”, Mama masih saja mengeluarkan kata-kata lemah lembutnya.
    “Mama gimana sih, orang lagi sedih malah disuruh senyum.”, sahut Saski dan melepaskan pelukannya ke Mama, begitupun aku.
    “Ma,kapan kita pindah?”, dengan sedikit sendu, aku berusaha sekuat hati mengatakan hal yang sebenarnya berat bagiku.
    “Hari Minggu yang akan datang.”, jawabnya masih dengan lembut.
    “Berarti, Tama masih punya waktu lima hari untuk menikmati waktu-waktu terakhir kehidupan kita disini. Tama bakal manfaatin sebaik-baiknya, dan Tama pasti akan bisa pergi dengan ringan hati.”, kataku pada Mama dengan segenap rasa yang aku punya, aku berusaha yakinin diriku dengan sebuah senyum.
    “Tama, jadi kamu....”, Mama sedikit kaget.
    “Iya,Ma. Tama...Tama rela kita pindah.”, jawabku lirih.
    “Horeee”, Saski berteriak girang.
    Aku,Saski dan Mama kembali berpelukan dan kami tersenyum lebar. Dan bulan di atas sana, jadi saksi kebahagiaan kami.

    “ Kini ku mengerti,
    Apa arti mimpi itu...
    Meski kenyataan yang menyayat hati,
    Tapi aku bahagia
    Bisa mengenalnya dan
    Bersamanya,
    Meski tak seumur hidup
    Aku jalani...
        Walau ruang,jarak dan waktu
        Akan memisahkan
        kita,
        Kamu akan selalu ada
        di hatiku...”

Bagian 2

    “Brum...brum...brum...”, suara mobil Papa kayaknya udah siap berangkat nih...
    “Ha??Gawat!! Papa udah mau berangkat kerja!”, Aku tergopoh dan langsung lompat dari tempat tidur, lari keluar kamar menuju ke balkon.
    “Papa berangkat dulu ya,Ma...”, Papa berpamitan pada Mama.
    “Iya, Papa hati-hati...Semoga surat-surat kepindahannya bisa cepat selesai diurus.”, balas Mama.
    “Mama doain Papa aja,ya...”, timpal Papa.
    “Papa...Maafin Tama yang kemarin ya?? Tama janji, Tama bakal lebih dewasa lagi...”, Aku berteriak dari balkon atas loteng rumahku.
    “Papa bangga sama kamu. Kamu mau menghargai hidup ini dan mau mengerti keputusan Papa. Papa juga minta maaf ya”, Papa pun berteriak dan mendongakkan kepalanya ke aku.
    “Makasih,Pa...”, sahutku dan aku memberikan hormat pada Papa dan Papa membalas hormatku.
    “Papa berangkat dulu.”, Papa pamit padaku sambil melambaikan tangan dan masuk mobil.
    “Hati-hati, Pa...”, kataku.
    “Selamat jalan...”, Mama melambaikan tangan.
    Mobil Papa sudah berlalu. Mama masuk rumah, begitupun Aku. Aku harus bergegas untuk menjalani hari ini. Karena sudah nggak ada waktu lagi. Lima hari terhitung dari detik ini, aku harus bisa memanfaatkan waktu hidupku disini. Nggak boleh ada kata percuma dan sia-sia buat lima hari ke depan.


    “Teng...teng...teng...”, bel pulang sekolah...
    “Horee”, suara yang sama hampir terdengar di seluruh kelas. Semua siswa langsung berkemas tanpa pikir panjang lagi.
    Aku,Ryan dan Cassandra jalan bareng keluar lingkungan sekolah.
    “Em...Yan,San...Gimana kalo kita main ke Taman Cinta?? Kan kita udah lama nggak main-main kesana.”, Aku membuka obrolan.
    “Yups,aku setuju. Aku juga kangeeeen banget sama suasananya.”, Sandra mengiyakan.
    “Boleh juga. Nanti kita bisa main-main sesuka hati...”, Ryan tak mau kalah.
    “Ya udah, kalo gitu kita langsung cabut kesana aja.”, Sandra sepertinya sudah nggak sabaran.
    “Ayo!!”, Aku dan Ryan menjawab bersamaan.
    Taman Cinta, taman kota dengan segala keindahan yang dipancarkannya. Dipagari pepohonan yang besar dan tinggi serta tanaman perdu yang memberikannya kesan rindang. Rerumputan hijau dengan taman-taman bunga warna-warni mempercantik taman ini. Dan, di tengah taman, air menjulang tinggi seolah menggapai langit, air mancur dan kolam dengan air yang hijau serta teratai yang mengapung di atasnya. Bangku-bangku taman juga tersebar di sekitarnya. Apalagi kalo malam datang, lampu-lampu taman di sana-sini bersinar redup diselimuti langit bertahtakan bintang dan pancaran sang rembulan, tak khayal...Suasana romantis pun akan hadir menghiasi.
    “Argh...Argh...”,Sandra teriak-teriak saat kami bermain kejar-kejaran.
    “Hayo lho...mau lari kemana??”, Ryan menghadang Sandra.
    “Bagus,Yan. Sandra nggak bisa lari lagi. Kita keroyok,yuk! 1...2...3...”, kataku.
    “STOP!!!”, Sandra mengarahkan tangannya ke depan dan telapak serta kelima jarinya terbuka mengisyaratkan berhenti. Aku dan Ryan pun diam di tempat..
    “Kalian curang, masa dua lawan satu. Cewek lagi yang dikeroyok. Ah, nggak bisa gitu dong!!”, Sandra nggak terima.
    “Terus, gimana dong??”, tanyaku.
    “Cewek tuh harusnya dilindungi, bukannya dikeroyok. Sekarang kalian suit, yang menang gendong aku sampai bangku taman di sana itu. Aku kan capek.”, kata Cassandra.
    “Hah??”, Aku dan Ryan penuh tanda tanya.
    “Kok gitu sih, San...”, Ryan berusaha membantah.
    “Ya udah. Kita nggak usah temenan lagi!”, Sandra buang muka.
    “Iya,iya...nih kita mau suit. Tapi, kita terus temenan ya...”, sambungku spontan
    “Yah, payah lo...”, Ryan ngatain aku.
    “Udah, ikut aja...”, paksaku.
    “1,2,3...1,2,3...1,2,3...”, Aku dan Ryan sibuk suit sendiri.
    “Yes, aku menang...tiga kali berturut-turut lho...”,Aku menarik kedua tanganku ke belakang.
    “Hahahaha payah lo...”, tambahku.
    “Heh, aku tuh sengaja ngalah sama kamu. Biar kamu aja yang nggendong Sandra. Hehehe”, Ryan mencibir.
    “Dasar!! Curang lo, nggak serius.”, ujarku.
    “Aduh, lama banget sih! Cepetan dong! Aku udah kepanasan nih...”, Sandra mulai manja.
    Aku pun jalan ke dekatnya dan jongkok di depannya.
    “Ayo naik! Katanya minta digendong...”, perintahku.
    Cassandra naik ke punggungku dan aku pun berusaha sekuat tenaga buat nggendong dia. Ya, meski agak berat sih...
    “Selamat menikmati ya,Coy.”, Ryan meledek sambil lari mendahului aku.
    “Awas kamu ntar,ya...”, responku.
    “Argh...Gubrak!!#$%^*@”
    Aku dan Cassandra jatuh ke rumput—Kayak di mimpiku,ya??—
    “Aduh....Tama...Gimana sih kamu??”, Cassandra merengek.
    “Aduh, sori-sori. Aku tadi nggak sengaja”, Aku mulai kebingungan.
    “Lihat nih...lututku lecet. Periiih.”, ungkap Cassandra.
    “Mana? Coba aku lihat. Aduuh, Huh...huh...huh...”, Aku berusaha menenangkan Sandra dengan meniup lukanya.

 Dan kutau,
Kau masih sendiri,
Ada rasa
Yang masih tersisa
Saat ini,
Ku masih menunggu dirimu
karna ku mencintamu
Aku masih cinta
Cinta kepadamu
Aku masih rindu
Rindu di pelukmu
Tiada pengganti dirimu
Yang bisa membuatku
semakin berarti...

    “Kamu belajar ilmu dukun dimana?”, tanya Cassandra.
    “Ilmu dukun? Ngomong apa sih kamu? Ngaco aja.”, jawabku masih sambil kebingungan.
    “Nah itu,kamu tadi niup-niup lukaku”, sahutnya.
    “Ah, kamu ini ada-ada aja. Ya udah kamu aku bopong ke bangku taman dan kita obatin lukanya. Kebetulan aku bawa P3K.”, timpalku.
    “Ayo! Pelan-pelan tapi...”, Sandra wanti-wanti.
    “1,2,3...Ati-ati...”, Aku mulai mengangkat badan Sandra dan membopongnya.
    “Aduuuhh...”, Sandra mengaduh.
    “Sabar,sabar. Bentar lagi nyampek tuh.”, Aku masih saja berusaha menenangkannya.
    “Nah...Akhirnya sampai juga.”, kataku.
    “Aah,huh...Aduh, cepetan dong ngobatinnya...”, Sandra nggak sabaran pengen diobati.
    “Ceile...yang baru jatuh. Baru juga lecet kecil. Udah aduh-aduh. Kenapa nggak nangis sekalian. Hahaha”, Ryan meledek.
    “Udah, kamu tuh orang lagi kesakitan nggak ditolongin malah diejek.”, balasku.
    “Huh...hah...”, Sandra berusaha mengurangi rasa perih dengan meniup-niup lukanya.
    “Nih, luka kamu aku bersihin dulu,ya...”, Aku membersihkan luka Sandra dengan kapas yang sebelumnya dicelupin refanol.
    “Auw,Aduh...Pelan dikit ngapa!? Kan perih.”, Sandra mengaduh lagi.
    “Sori-sori, emang kayak gini. Than bentar ya...”, Aku berusaha menenangkan lagi.
    “Katanya mau cepet beres lukanya. Gitu aja ngaduh-ngaduh.”, Ryan mengejek lagi.
    “Kamu kan nggak ngerasain perihnya. Auw...Perih.”, timpal Cassandra.
    “Udah nih, tak kasih hansaplast.”, kataku perhatian.
    “Pelan-pelan...”, ujarnya.
    “Nih, aku kasih minuman. Kasihan banget deh kamu.”, Ryan menyodorkan segelas air mineral dan aku sibuk membereskan kotak P3K.
    Kami bertiga duduk bersama dalam satu bangku itu. Kami masih saja bersenda gurau. Tawa-tawa kecil pun muncul. Dan kami, menikmati hari ini.

    Bulan purnama menebarkan pesona indah cahayanya pada sang malam. Bintang tak begitu banyak yang berkedipan di langit kelam. Aku termangu di jendela kamar, diam sambil menatapnya.
    “Hush!!!”, Ryan menganggu penerawanganku dan akupun tersadar, sontak mataku tertuju ke jendela seberang.
    “Hayo lo malam-malam di jendela ngelamun aja. Kesambet kamu nanti, baru tau rasa!?”, tambahnya.
    “Eh kamu,Yan.”, jawabku ketus.
    “Iya ini aku emangnya hantu?? Udah mulai ngaco kamu. Kesambet nih...Wah, beneran kesambet ni anak. Makanya, jangan ngelamun aja. Gitu tuh jadinya. Gimana sih kamu??”, cerocosnya.
    “Lo sobat, tapi bego ya?”, kataku sinis.
    “Gila lo... enak aja ngatain aku seenaknya. Maksud kamu apa sih? Ruwet banget ngomong sama kamu.”, balasnya.
    “Kamu nih gimana sih,Yan? Kamu tuh harusnya ngerti, sobat kamu ini lagi ada masalah. Masa temenan udah lama nggak ngerti-ngerti juga gerak-gerikku.”, omelku.
    “Sori-sori, gitu aja marah. Kemana selera humormu? Emang ada apa sih? Kamu katanya temen...sobat...tapi nggak mau sharing. Ya,gimana aku bisa bantu??”, sahutnya.
    “Hah...udah nggak usah dibahas. Aku punya ide nih. Tapi, kamu mau nggak?”, kataku.
    “Wong idenya apa aku nggak tau, gimana mau komentar?”, jawabnya.
    “Besok, abis jam istirahat, kita cabut dari sekolah. Kita jalan ke suatu tempat. Itung-itung permintaan maaf aku ke Sandra karena udah bikin dia jatuh dan luka. Mau nggak ?”, ajakku.
    “Hm...”, Ryan bengong dan kedua matanya seolah mau keluar dari kelopaknya.
    “Gila kamu,Tam. Kesambet setan mana kamu?”, sambungnya.
    “Alah...mau nggak? Kao nggak mau, ya aku kabur sama Sandra aja sendiri. Malah asyik berduaan doang. Nggak ada pengganggu kayak kamu.”, ancamku.
    “Yah, enakan kamu sendiri dong!? Aku ikut deh. Nanti Sandra kamu apa-apain lagi, kalo aku nggak ikut.”, katanya setuju.
    “Enak aja. Ya nggak mungkinlah. Ok, yang penting kita besok jadi jalan. Deal?? Ayo, deal dulu dong.”, seruku sambil menyodorkan tangan.
    “OK!! DEAL.”, Ryan juga menyodorkan tangannya dari jendela seberang.
    “Kalo gitu, aku mau telfon Sandra sekarang. See you,Pren.”, sambungku semangat sambil meninggalkan jendela kamar.
    “Lah,pergi gitu aja...”, gerutu Ryan.
    “Gitu San ceritanya...Mau ikut,kan? Please...biar aku nggak ngerasa bersalah ke kamu. Nebus dosa gitulah.”, Aku memohon.
    “Em...gimana,yah?”, jawab Sandra sedikit ragu.
    “San,please....sekali ini....sebelum aku pergi.”, rengekku.
    “Pergi kemana kamu?”, Sandra balik tanya.
    “Eh, nggak...nggak kemana-mana. Pokoknya iya,ya?? Kamu ikut!?”, pintaku dengan sangat-sangat memohon.
    “Iya deh...Apa sih yang nggak buat persahabatan kita.”, katanya.
    “Yes!! Thanks ya, San...Kalo gitu, sampai ketemu besok ya...Konbanwa* ”, aku menutup pembicaraan.
    “See you,too...”,salam penutup Sandra diikuti tutup telfon.
    “Hah,besok harus sukses.”, kataku dalam hati sambil merebahkan badan ke atas kamar, hingga aku terlelap dalam tidur.

    “Yeee,Hahaha...”
    “Seru banget ya tadi main Jet Coasternya...”, ujar Sandra.
    “Seru apanya? Aku mau muntah,nih...huwekk”, Ryan kolokan, nggak kuat dibikin pusing Jet Coaster.
    “Iih,jorok!”, Sandra menutup muka dengan kedua telapak tangannya.
    “Ah,kuno banget sih kamu, kayak nggak pernah naik Jet Coaster aja.”, ledekku.
    “Huwek...huwek...”, Ryan masih mau muntah.
    “Aduh,kalo mau muntah cepetan dong!! Jangan huwak-huwek nggak jelas gitu. Jadi muntah nggak sih?”, gerutuku.
    “Hi...aku nggak mau lihat orang muntah. Ah, aku kabur dulu ya...”, Sandra lari meninggalkan kami.
    “Udah...Nih,minum air mineralnya...”, kataku sambil menyodorkan botol air mineral.
    “Huh...Aku sih nggak bakal muntah. Emang gini efek sampingnya kalo aku naik Jet Coaster. Pengen muntah,tapi nggak bisa muntah.”, ungkapnya sambil meraih botol air mineral.
    “Ada-ada aja kamu.”, Aku sedikit heran.
    “Glek,glek,glek, ah...segerrr. Thanks ya,Bro. Emang ini obat paling mujarab.”, dia tenggak air mineral dalam botol hingga tinggal separo dan meyodorkannya kembali ke aku.
* Konbanwa : selamat malam dalam bahasa jepang
    “Bisa aja kamu. Udah, sekarang Sandra ilang. Cepetan cari dia, yuk...”, ajakku.
    “Tama...Ryan...”, suara Sandra dari kejauhan.
    “Dimana kamu,San?”, Aku berteriak dan memandang sekitar,tapi tak ku jumpai sosoknya.
    “Disini...di atas sini...”, Sandra membalas teriakanku.
    “Busyeeettt. Dia udah seneng-seneng naik Bianglala.”, Ryan tercekat saat melihat Cassandra berada dalam salah satu keranjang. Bianglala yang sedang berputar ke atas.
    “Hati-hati, San...”, ujarku keras.
    “Dagh...”, Sandra melambaikan tangannya. Kelihatannya bahagia banget.
    “Eh,dia tuh udah gedhe nggak perlu kamu kasih tau,dia juga bakal hati-hati kok. Nggak usah parno gitu deh.”, Ryan sewot.
    “Iya,iya...Sewot aja.”, timpalku.
    Musik Komidi Putar dekat Bianglala menarik perhatian kami.
    “Eh,kita naik Komidi Putar,ya...pasti nanti lucu. Ayo!”, ajak Sandra.
    “Aduh,umur kamu berapa,San? Udah naik Bianglala,sekarang tertarik pengen naik Komidi Putar. Ampun bener-bener deh.”, komentar Ryan.
    “Iuh, sebel!”, Sandra pasang muka jutek dan manyun.
    “Yan,kita kan kesini buat having fun. Ya nggak papa dong cobain semua permainan...”, nasehatku.
    “Iya deh...”, Ryan mengiyakan.
    “He...lucu banget ya. Udah lamaaa aku nggak main kesini. Makanya, sori ya kalo aku agak kekanak-kanakan. Hehehehe”, ungkap Sandra sambil naik turun nunggang kuda Komidi Putar.
    “Hm...hm...”, aku cuma senyum tipis.
    “Eh, Ryan kayaknya kecapaian tuh. Liat,masak sambil nunggang kuda,matanya merem. Hihihihihi. Kita kagetin yuk!”,usul Sandra.
    “Boleh juga,hahahahahahaha”, Aku setuju.
    Aku dan Sandra turun dari tunggangan dan mendekati Ryan.
    “Itungan ketiga, kita teriak kagetin dia,ya...”, Aku memberi petunjuk.
    “Sip...”,Jempol Sandra diangkat tanda setuju.
    “Satu...dua...ti...”,belum selesai aku memberi aba-aba...
    “Wa...nah lo...Hahahahahaha”, Ryan udah lebih dulu ngagetin Aku dan Sandra.
    “Iih...Ryan ngagetin aja...”, Sandra berujar.
    “Hahahahahahaha,nggak kena...nggak kena...”,Ryan goyang-goyang di atas tunggangannya karena merasa sukses balik ngerjain kami.
    “Hebat lo,salut deh...!!!”, kataku.
    “Yes,gimana guys?? Satu kosong...Makanya nggak usah punya niat ngerjain Ryan deh,nanti bisa senjata makan tuan. Hahahahahaha...”, ledek Ryan usai turun dari komidi putar.
    “Aah, udah-udah. Kita beli gula kapas ,yuk!”, ajak Sandra.
    Setelah gula kapas ditangan,kami pun berkeliling menikmati wahana rekreasi tersebut. Banyak ria canda yang mengiringi langkah kami disana. Pokoknya seru dan have fun banget.

    “Sandra...Sandra...Udah siang nih,ayo berangkat sekolah...”, Aku dan Ryan berdiri di depan pagar rumah Cassandra udah nggak sabar liat dia keluar.
    “Sandra...,buruan dongggg...Teng,teng,teng.”, Ryan udah nggak sabaran bahkan sampai mainin pegangan grendel pagar.
    “Eh,sabaran dikit napa?”, sahutku.
    “Kebiasaan. Cewek dimana-mana suka kelamaan dandan.”, timpal Ryan ketus.
    “Maaf,mas...Non Sandra...”, belum selesai pembantu Sandra yang baru nongol di pagar.
    “Lho, kok Bi Ijah yang keluar? Kita cari Sandra,bi...Masa Bibi mau ikut kita sekolah, kan nggak lucu. Hehehehe...”, potong Ryan tanpa rasa bersalah dan cengengesan.
    “Alah...Diem lo!? Pagi-pagi udah kumat.”,sambutku jengkel.
    “Peace,bro...”, kedua tangannya diangkat sambil ngacungkan telunjuk dan jari tengahnya.
    “Anu, Non Sandra sekeluarga pagi-pagi sekali sudah berangkat ke Lembang...”, kata Bi Ijah pelan.
    “Mau ke puncak ya, Bi? Kan masih hari Kamis.”, potong Ryan lagi.
    “Busyet dah,dibilangin suruh diem juga!”, sambungku.
    “Hehehehehe”, Ryan cengengesan.
    “Ehm..neneknya Non Sandra sedang sakit keras, dan keluarga besarnya diharapkan untuk berkumpul semua disana”, jelas Bibi.
    “Oo, gitu ya,Bi? Jadi nggak masuk sekolah dong, Sandranya.”, Lagi-lagi Ryan ngoceh tanpa dosa.
    “Ya jelas bego!!”, Kubenturkan pundakku ke pundak Ryan.
    “O,iya...ini surat ijinnya. Tolong disampaikan ke gurunya Non Sandra,ya? Terimakasih sebelumnya.”, Bi Ijah menyodorkan amplop putih,surat yang ditujukan untuk guru pengajar.
    “Siip, bereeeessss. Serahin sama ketua kelasnya.”, Ryan langsung aja mencomot surat itu.
    “Ya udah Bi,Kami berangkat dulu. Mari Bi...”, pamitku dengan tampang sok ramah.
    “Dagh, Bi Ijah...”, tangan Ryan melambai masih dengan muka cerah tanpa rasa bersalah. Bi Ijah juga Cuma balas senyum dan geleng kepala.
    “Jadi,untuk penulisan nama latin tersebut syarat-syaratnya adalah Bla..bla..bla..”
    Jam pelajaran Biologi yang membosankan. Ditambah Sandra nggak masuk sekolah lagi. Jadi nggak ada yang bisa buat “cuci mata” selain bangku kosong yang dia tinggalin. Seisi kelas antusias mengikuti pelajaran,sedangkan aku sama sekali nggak bisa konsen bahkan aku melamun. Sandra lagi apa,ya? Andai dia hari ini masuk...Hah...kenapa harus begini??
    Pikiranku terbang tinggi melambung di awang-awang sampai aku nggak sadar dan...
    “Ptak!?#$@”,kapur kecil melayang ke jidatku.
    “Aduh!!”.responku spontan dan sedikit keras.
    “Hahahahaha...”,seisi kelas menertawakanku dan mukaku pun juga jadi merah,sambil masih ku ucel-ucel jidatku bekas lemparan kapur.
    “Tama!! Kalo kamu nggak suka ikut pelajaran Bapak,lebih baik kamu KELUAR...!”, Bentak Pak Gustam,guru Biologiku yang lumayan galak.
    “Tapi,Pak...”,bantahku.
    “KELUAR!!”,Bentaknya lebih tegas sambil mengarahkan jari telunjuknya ke pintu.
    “I...i...iya,Pak.”, Aku Cuma pasrah dan beranjak dari bangkuku jalan keluar kelas.
    “Payah.lo...Malu-maluin aja...”
    Ryan mengejekku saat kami duduk bersama nikmati makanan di kantin.
    “Aah...Aku lagi apes aja.”,bantahku.
    “Eh,ngomong-ngomong lo kenapa sih? Akhir-akhir ini,ya...Kamu tuh aneh.”,katanya.
    “ANEH??”, Aku balik nanya.
    “Iya,Aneh. Masa kamu nggak ngrasa?”,timpalnya.
    “Maksud kamu ??” ,Aku masih nggak paham.
    “Mulai dari muka ditekuk,kelakuan nggak wajar,suka bengong sampai berani ngajak “cabut” dari sekolah, kalo bukan aneh terus apa dong??”,ungkapnya.
    “Emang gitu? Mata kamu meleng kali? Bangun dong! Ngimpi lo ye?”,Aku berusaha menghindar.
    “Udah,ngaku aja...Kita kan Pren. Wajib saling membantu. Ngomong aja...nggak bakal deh,mulut gue “ember”. Percaya!? Bergaransi lho...”,rayu Ryan.
    “Hah...”,Aku menghela napas panjang.
    “Hari Minggu, aku bakal ninggalin ini semua. Hidupku dan semua yang kumiliki disini.”, Sambungku.
    “Uhuk!? Uhuk...huk...huk...”,Ryan tersedak bakso yang asyik disantapnya.
    “Woi...Santai,Bro...”, Aku tepuk-tepuk punggungnya.
    “Glek...glek...glek...”,Ryan langsung menenggak es jeruk di depannya.
    “Maksud lo?? Emang lo mau kemana? Ke Surga?”, Tambahnya usai minum dengan masih kaget dan bertanya-tanya.
    “Enak aja ke Surga. Aku masih belum mau mati,Dodol!!”, Ujarku.
    “Terus??”
    “Aku harus ikut bonyok sekeluarga pindah ke Surabaya...”, Kataku pelan.
    “Pindah? Kamu sekeluarga pindah?? Ke Surabaya lagi. Aduh,gawat! Aku nggak kuat kalo harus pisah.”, muka Ryan berekspresi sedih--sedikit maksa sih--.
    “Aku juga, dan ini keputusan yang nggak bisa diganggu gugat.”, Timpalku.
    “Oh...TIDAKKKKK...Nasi Goreng Spesial bikinan nyokap lo nggak bisa gue nikmatin lagi dong? Padahal aku udah cinta mati...Hiks...hiks...hiks...Aku pasti bakalan kangen.”, Ryan memelukku.
    “%#@!?/*”, Aku bingung.
    “Eh,apa-apaan sih??”, Aku ngelepasin pelukannya.
    “Kok kamu nggak cerita-cerita ke aku?”,tanyanya.
    “Lhah...barusan...?”, Jawabku.
    “Kenapa nggak dari dulu ??”, tanyanya lagi.
    “Alah, nggak penting.”, Jawabku singkat sambil terus makan bakso.
    “Nggak penting gimana?? Persahabatan kita? Nasi goreng gue?”, Ungkapnya.
    “Makanan aja yang kamu pikirin...”, Aku masih terus ngelahap bakso tanpa menatapnya.
    “Kok kamu jadi nggak peduli gini??”, Ryan mulai naik darah.
    “Ya,mau apa lagi? Emang gini kenyataannya,kan?”, Aku masih dalam posisiku.
    “Eh, kamu nggak bisa dong ngomong kayak gitu. OK,kamu boleh pindah. Tapi setidaknya mikir dong sedikit buat persahabatan kita yang bakalan sulit kita jalin.”, Nada-nada dan perkataannya meninggi bahkan dia melupakan baksonya.
    “Alah...udah nggak usah pusing mikirinnya.”, kataku tanpa serius menanggapi dan masih asyik nikmatin bakso.
    “Brekk!!?”, Ryan menggebrak meja.
    “Gue nyesel sobatan sama lo!!”, Dia pergi meninggalkanku dengan hati yang membara.
    Aku hanya diam,nggak tau mau berbuat apa. Mungkin, aku...memang ‘Manusia Bodoh’.

    Lusa, aku sudah nggak ada disini. Kehilangan semua yang aku punya. Kemarin aku telah banyak berbuat bodoh hingga aku merusak hari-hari terakhirku. Cassandra pergi tanpa pamit padaku dan nggak jelas kapan kembali. Ryan lagi marahan sama aku. Padahal, waktuku udah nggak banyak lagi. Tapi, Hah...rasanya emang lebih baik aku cepat pindah. Lepas dari kepenatan ini.
    Aku harus minta maaf sama Ryan. Sayangnya, jendela kamarnya terkunci rapat dan ditutup gorden hingga tak bisa aku jumpa dirinya. Bahkan pagi tadi di sekolah aku nggak lihat batang hidungnya, kecuali di kelas saat jam pelajaran. Sepertinya dia menghindar dariku. Sampai-sampai saat berpapasan, dia acuh padaku.
    Apa, aku harus nyamperin dia ke rumahnya,ya?
    “Tok...tok...tok...”, Aku ketuk pintu rumah Ryan dan tak lama ibunya membukakan pintu.
    “Ee...Nak Tama.”, Sapanya.
    “Malem Tante...Em..Ryan ada Tante?”, balasku.
    “Waduh, Ryan nggak ada di rumah. Dia nginep beberapa hari di rumah pamannya di kompleks sebelah.”, Ungkapnya.
    “Lho,kenapa Tante?”, tanyaku ingin tahu.
    “Kebetulan sepupunya ulang tahun hari ini...dan selebihnya dia pengen cari suasana baru. Bosen di rumah katanya. Nak Tama nggak dikasih tau sama Ryan?”, jelasnya.
    “Oo gitu ya, Tante. Ryan nggak ngomong apa-apa kok Tan...Kalo gitu,Tama pamit dulu aja.”, Ujarku sedikit kecewa.
    “Lho,kamu nggak pengen masuk dulu?”, Ajaknya ramah.
    “Nggak usah, Tan...Lagian kan saya harus bantu Mama beres-beres untuk persiapan pindahan.”, Jawabku.
    “Kalo gitu kamu tunggu sebentar ya? Ada titipan buat Mama kamu.”, Ibu Ryan masuk ke dalam rumah dan Aku berdiri sendiri di depan pintu—berharap dapat sesuatu,hehehehe...--
    Tak lama kemudian, ibu Ryan keluar dan membawa sebuah kotak kardus tanggung.
    “Ini ada sedikit kue buat Mama kamu sekeluarga. Asli bikinan Tante sendiri lho...dan tolong sampaikan sama Mama kamu,Tante masih belum sempat bantu-bantu beresin barang-barang untuk pindahan. Maklum,Tante lagi sibuk. Ini diterima kuenya...”, Ibu Ryan menyerahkan sekotak kue itu padaku.--harapanku terwujud.—
    “Ah, makasih banyak ya Tante. Jadi merepotkan. Ya udah,Tama pulang dulu. Mari Tante...”, Aku menutup pembicaraan dan jalan ke rumah.

    “Ryan, tunggu!!”, teriakku saat Ryan jalan di depanku di gerbang sekolah.
    “Pagi-pagi gini nggak usah ngajak berantem,deh.”, Ryan yang berhenti sejenak dari langkahnya justru membalas ketus teriakanku.
    “Yan, dengerin aku. Aku mau minta maaf sama kamu. Soal yang kemarin itu, aku nggak ada maksud buat nge...”, belum selesai aku berikan penjelasan.
    “Udah, nggak usah dibahas lagi.”, balasnya acuh dan kembali melanjutkan jalannya.
    “Tapi, Yan... Aku...”, Ryan melenggang jauh meninggalkan aku.
    Aku “cabut” lagi dari jam pelajaran dan kabur ke kantin. Aku udah capek dengan segala kebodohanku yang merusak,mengahncurkan semuanya. Hari ini, hari terakhirku disini. Sandra nggak ada kabar sama sekali. Ryan bahkan sudah nggak peduli sama aku. Bagaimana bisa aku punya kenangan indah sebelum aku pergi. Bahkan mungkin, kata pamitku tak akan pernah sampai ke telinga mereka.
    Dua  mangkuk Bakso, tiga gelas es jeruk ternyata masih tak cukup bantu aku ngilangin beban pikiranku. Bahkan semalam sebelum tidur, aku sempat netesin air mata saat merenung di atap. Meskipun penerawanganku nilainya NOL BESAR. Abis aku bener-bener lagi ERROR,kacau,putus asa,seolah benar kata Glenn Fredly, ‘Sedih tak berujung’.
    Hah....AKU INGIN BEBAS!!!
    LEPAS DARI SEMUA MASALAH!?
Aku kehilangan semuanya...


“Brekk! Brum...brum...brum...!”, pintu mobil telah tertutup rapat, siap melaju membawa Aku dan keluargaku pergi dari kehidupan yang telah lama kami bangun.
Perlahan mobil berjalan. Semakin menjauh dari semua apa yang ada dalam hidupku selama ini. Ingin rasanya aku tetap tinggal, tapi tak kan bisa. Life must go on...Aku pun tak terpikir untuk menoleh ke belakang. Setidaknya untuk terakhir kali aku melihatnya. Tapi,biarlah aku menatap terus ke depan dan sedikit demi sedikit menghapus yang “di belakang”. Karena sudah tak ada yang memberatkanku. Teman-temanku juga mungkin saat ini tak memikirkan aku.
“TAMA!?”, Ryan dan Sandra meneriakkan namaku seolah mencegahku pergi, saat mobilku mulai melaju. Sayang, aku tak mendengarnya, karena Aku tak mau diberatkan oleh apapun jika aku berbalik.
“Tama...maafin Aku!”, teriak Sandra dengan berkaca-kaca.
“Jangan lupakan Kami!!”, Ryan pun juga seakan nggak ikhlas ngelepas kepergianku.
Tak ada seorangpun di dalam mobil yang tahu apa yang mereka lakukan dan bahkan apa yang mereka teriakkan. Begitupun aku. Karena Aku dan keluarga sudah punya niatan untuk menjalani kehidupan baru, dengan harapan kedepan, bukan siksaan dibayangi kenangan.
Mobilku jauh berjalan meninggalkan rumah dan dua sahabatku hingga tak terlihat lagi semua itu.
“Yan,Tama udah pergi...”, Rengek Sandra sambil menarik-narik bahu Ryan.
“Tenang dong,San...Bukan kamu aja yang sedih. Aku juga.”, Ryan berkata lirih.
“Kenapa, Yan...kenapa? Kenapa dia harus pergi? Kenapa pula dia tidak memberitahuku? Aku kehilangan dia tanpa ada pamit dan pergi begitu aja. Perpisahan yang tidak seharusnya ada!!”, Ungkap Sandra kesal dan mulai menitikkan air mata. Dia pun berlari ke dalam rumah meninggalkan Ryan sendiri di jalan.
“Tam...Maafin aku...Aku udah bikin kamu salah paham ke aku. Sebenernya aku nggak marah sama kamu. Aku menghindari kamu,karena aku nggak mau melihat kamu pergi dari aku. Aku memang egois. Harusnya aku ada sama kamu di detik-detik terakhir ini. Sori,Tam...Selamanya kamu tetap SAHABATKU. Hati Ryan menangis, meluapkan segala emosi dan rahasianya,meski tanpa air mata di pipi dan ucapan dari bibir.
----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.----.


Sobat,
Maafkan segala salahku...
Maafkan pula yang
Begitu saja meninggalkanmu...
    Kenanglah masa-masa indah
    Bahagia kebersamaan kita
    Tutup mata kamu
    Dan selami masa lalu kita
    Semoga bisa menjadi
    Obat rindumu...
Doamu selalu ku nanti
Harapku ini jalan terbaik
Meski jauh,
Tapi tetaplah di hati
Jalani hidup lebih baik lagi...


   
   


   

1 comment:

  1. hmmm, lebih baik s Tama jadi cewek trus disini yg cewek jd cowok, yg cowok jd cewek .__.

    ReplyDelete